1.1.a.9 Koneksi Antar materi - Refleksi Filosofi Pendidikan KHD
Kesimpulan dan penjelasan mengenai pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara
Pendidikan adalah tempat bersemainya benih-benih kebudayaan dan keberadaban yang harus kitatanamkan kepada anak cucu kita (siswa) dan kita sebagai guru harus menjadi seorang ‘petani’ yang mampu menuntun tumbuhnya ‘padi’ dengan baik melalui pendidikan dan pengajaran di sekolah. Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan perkembangan budi pekerti (kekuatan batin), fikiran (intelek) dan jasmani anak-anak, dengan maksud supaya kita memajukan kesempurnaan hidup, yakni kehidupan dan penghidupan anak-anak, selaras dengan alamnya dan masyarakatnya. Semboyannya yang terkenal ialah tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan), ing madya mangun karsa (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa), ing ngarsa sung tulada (di depan memberi teladan). Bagian depan dari semboyannya, tut wuri handayani, menjadi slogan Departemen Pendidikan Nasional Ki Hajar memandang siswa atau peserta didik adalah manusia yang mempunyai kodratnya sendiri dan juga kebebasan dalam menentukan hidupnya. Pandangan Ki Hajar tentang siswa yang tidak mengekang kebebasan siswa ini sesuai dengan pandangan humanistik terhadap siswa. Aliran humanistik ini membantu siswa dalam mengembangkan potensinya dan membiarkan siswa belajar dari pengalaman yang dialaminya sendiri.
Ki Hajar Dewantara mengemukakan Panca Dharma. Panca Dharma secara umum berarti lima asas. Lima asas pemikiran yang terhimpun dalam konsepsi tersebut adalah: asas kodrat alam, asas kemerdekaan, asas kebudayaan, asas kebangsaan, dan asas kemanusiaan
Dari sudut pandang isinya, pendidikan yang digagas oleh Ki Hadjar Dewantara memiliki kriteria-kriteria yang secara eksplisit mengandung enam unsur, yaitu: 1) pendidikan kebebasan (merdeka), 2) pendidikan kemanusiaan (humanisme), 3) pendidikan spiritual (kodrat alam), 4) pendidikan budi pekerti, 5) pendidikan sosial (kekeluargaan) dan 6) pendidikan kepemimpinan (Tut Wuri Handayani) Bahkan, berbagai aspek yang terkait dengan pendidikan seperti visi, misi, tujuan, kurikulum, metode, dan tahapan pendidikan lainnya harus dirumuskan berdasarkan kemauan bangsa Indonesia yang berasal dari berbagai suku, etnis, dan budaya yang beraneka ragam. Sehingga gagasan dan pemikiran dari Ki Hadjar inilah yang kemudian menjadi acuan penyelenggaraan pendidikan nasional hingga sekarang ini. konsep Sistem Among (sistem pengajaran) dan Kodrat Alam (kehendak alam) juga merupakan buah gagasan dari pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara merangkum konsep yang dikenal dengan istilah Among Methode atau sistem among. Among mempunyai pengertian menjaga, membina dan mendidik anak dengan kasih sayang. Pelaksana among (momong) disebut Pamong, yang mempunyai kepandaian dan pengalaman lebih dari yang diamong. Guru atau dosen di Taman Siswa disebut pamong yang bertugas mendidik dan mengajar anak sepanjang waktu. Tujuan sistem among membangun anak didik menjadi manusia beriman dan bertakwa, merdeka lahir batin, budi pekerti luhur, cerdas dan berketerampilan, serta sehat jasmani rohani agar menjadi anggota masyarakat yang mandiri dan bertanggung jawab atas kesejahteraan tanah air serta manusia pada umumnya
Refleksi dari pengetahuan dan pengalaman baru yang diperoleh dari modul ini dan perubahan diri yang dialami dan akan dipraktikkan di sekolah atau kelas.
Sebelum mempelajari banyak hal terkait filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara, saya percaya bahwa peserta didik saya adalah manusia dan memiliki keunikan masing-masing. Sebagai manusia tentu kita memperlakukan mereka seperti anak kita sendiri. Dan sebagai manisua yang unik kita juga dituntut untuk memperlakukan mereka sesuai dengan keunikannya. Hanya apa pun konsep itu, kurang dijalankan secara maksimal. Pengetahuan itu hanya menjadi milik guru, kurang maksimal diterapkan dalam pembelajaran baik di sekolah maupun di kelas. Saya juga sebagai guru banyak menuntut terhadap anak /peserta didik tanpa mempertimbangkan beban belajar mereka. Juga kurang memperhatikan secara detail kebutuhan belajar anak, kebebasan anak untuk belajar belum merdeka. Anak belajar dibawa tekanan guru. Guru yang menentukan jadwal belajar dan juga hasil yang akan dicapai. Berangkat dari pengalaman ini ada beberapa hal yang saya refleksikan setelah belajar banyak hal terkait filosofi pendidikan KHD. Pemikiran KHD sangat relevan sekaligus merupakan dasar program merdeka belajar yang dicanangkan oleh pemerintah. Ada pun nilai esensial dari pemikiran KHD yakni nilai keberpihakan pada anak. Memprioritaskan anak telah saya terapkan dalam kegiatan pembelajaran di kelas maupun di sekolah. Keberpihakan pada anak menjadi sebuah kewajiban bagi seorang guru. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan dalam pembelajaran:
- menuntun anak untuk merumuskan pertanyaan, merumuskan pengetahuan baru atau menyampaikan pendapat. Anak seringkali mengalami kesulitan dalam merumuskan pertanyaan atau pendapatnya terkait materi belajar. Anak juga seringkali malu untuk tampil di depan kelas mempresentasikan apa yang menjadi hasil pemikirannya terkait pembelajaran.
- Memberi aplous terhadap hasil karya anak. Apa pun hasil yang ditampilkan anak selama proses pembelajaran, guru wajib memberikan apresiasi positif terhadap anak, untuk membangun rasa percaya diri dan motivasi belajar anak.
- Memberikan semangat, dorongan/motivasi dalam dalam seluruh proses pembelajaran, baik secara individu maupun secara kelompok.
- Melakukan kunjungan rumah untuk memantau belajar anak di rumah bersama orang tua.
- Mengadakan kesepakatan kelas baik pada saat pembelajaran berlangsung maupun mengenai waktu belajar. Anak bisa memberikan pendapat, saran pada guru mengenai waktu belajarnya.
- Memberikan keleluasaan dalam mengerjakan tugas dan mengumpulkan tugas dengan jedah waktu yang ditentukan bersama
- Anak dituntun untuk membiasakan diri dalam hal membersihkan lingkungan sekolah dan kelas. Hal ini dilakukan untuk menciptakan lingkungan belajar atau iklim belajar yang kondusif. Sekolah yang diibaratkan dengan ‘ladang’ harus disiapkan dengan baik agar ‘benih’ dapat tumbuh dengan baik. Guru yang dianalogikan sebagai petani harus dapat mengurus ladang agar benih dapat tumbuh dengan baik sesuai harapan.
- Anak dituntun untuk membiasakan diri bersyukur dan berdoa kepada Tuhan sebelum dan sesudah proses belajar. Di sekolah kami sebelum pembelajaran di kelas berlangsung, semua siswa dituntun untuk berdoa bersama di halaman sekolah. Ataupun dalam kegiatan di kelas anak dituntun untuk memulai kegiatan dan mengakhir kegiatan dengan berdoa untuk bersyukur kepada Tuhan. Hal ini juga untuk mencapai profil pancasila yakni bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia.
- Anak dituntun untuk membiasakan diri bersikap nasionalis. Kegiatan yang dijalankan untuk mencapai hal ini adalah setiap hari senin diadakan upacara bendera, dan setiap hari memulai kegiatan belajar dengan upara bendera di halaaman sekolah, kemudian dilanjutkan dengan membiasakan diri menyanyikan lagu- lagu wajib nasional.
- Proses pembelajaran seluruhnya dijalankan dengan konsep berpusat pada anak. Konsep berpusat pada guru harus ditinggalkan, kemudian diubah untuk selalu berprioritas pada anak. Anak dituntun, diberi motivasi dan memberikan contoh yang baik. Hal ini sesuai dengan semboyan pendidikan yang digaungkan oleh KHD yakni ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karsa dan tut wuri handayani.
- Anak juga diperkenalkan dengan budaya daerah melalui mata pelajaran muatan lokal, seni budaya dan pra karya. Hal ini dilakukan untuk menuntun anak mencintai dan mengenal budaya lokal, yang kemudian bermuara pada anak berkembang sesuai dengan budayanya dan kodrat alamnya.


Komentar
Posting Komentar